Archive for March, 2007

Loneliest Place On Earth

Friday, March 23rd, 2007

Bulan terlihat
penuh malam itu, Elora… dan aku membawa gitar itu bersamaku. Bersanding bersama
diatap beton dalam udara yang dingin, selepas hujan mengguyur tadi siang.
Hujan yang menyisakan genangan kecil diatas semen yang lembab. Hanya terasa lembab, Elora…
karena lagu dangdut murahan yang merambat melalui jendela tetangga membuat
malam yang basah ini semakin panas dan gerah. Biarkan saja, karena aku memang
tidak perduli. Tak ingin aku biarkan mereka merenggut bulan itu dari kita,
Elora…

 

Dia makin
terlihat terang, Elora… makin terlihat terang disela malam yang makin beranjak
tua. Apakah kau melihatnya juga, Elora? Bulan yang saat ini aku lihat? Dia
begitu riang malam ini. Dari sinarnya dia bercerita padaku tentang sejuta
rahasia yang tak akan mungkin mampu aku ulang kembali kepadamu. Setiap kata,
setiap titik setiap koma setiap rangkaian pertanyaan yang mengalun seperti  aliran air dari hulu ke hilir makin deras
makin tak terkendali seperti hujan badai yang tempo hari nyaris menenggelamkan
Jakarta kita, Elora…

 

Semoga kau juga
melihat bulan yang sama, Elora…. Karena melalui dirinya, aku ingin mengirimkan
sepotong lagu yang baru saja selesai ketika gerimis menyapa selepas hujan. Lagu
tentang seseorang yang merenung di bangku taman. Di tepi danau bersama angin
yang mendesir menerbangkan daun lepas dari pucuknya. Mungkin shoegaze mungkin
pop mungkin hanya raungan tidak jelas dari gitar dengan chord yang tidak lebih
dari tiga.

 

Lagu itu
tentangmu, Elora… sepotong lagu yang tidak pernah ingin kau dengar. Pesan
purnama yang tidak juga pernah ingin kau lihat. Sepotong cerita tentangmu, Elora…
Tentangmu…