Sang Penjaga Taman
Sungguh aneh ketika denting-denting itu terdengar olehku. Kala ia meliuk-liuk disela daun, diantara pucuk dahan dan rerumputan. Menari bersama nyanyian angin yang begitu sendu dan muram. Genta-genta kecil yang menyapaku dengan sangat akrab. Selayaknya rangkulan sahabat lama yang telah begitu lama terpisah. Dingin, tapi tetap menakjubkan.
Ya… aku masih ingat denting itu. Dia sempat berkunjung dalam mimpiku tempo hari. Hanya sesaat memang, namun masih segar untuk diingat. Seperti setetes embun yang berkumpul saat malam beranjak subuh.
Sungguh aneh memang. Mendengarkan sesuatu yang entah darimana datangnya. Entah dengan bahasa mana dia menelurkan ceritanya padaku. Dengan bahasa langit barangkali. Karena aku hanyalah penjaga taman. Aku tak mengerti bahasa lain selain yang ada di taman ini. Tapi aku tau apa maksudnya. Isi dari apa yang denting itu ceritakan padaku. Seakan dia meresonansikan nafasnya pada jantungku. Meletakkan ujung telunjuknya pada bibirku dan berbisik,” Ssssshhhh… diamlah. Biarkan aku bercerita untukmu. Sekali ini saja. Hanya malam ini.”
Dan aku hanya terdiam. Memejamkan mataku dan mendengarkan cerita sang denting. Ceritanya mengalir begitu deras seperti angin dingin yang mendera saat kemarau di bulan agustus. Membelaiku tanpa sela, tanpa titik tanpa koma tanpa garis putus-putus tanpa tarikan nafas yang mendesah tersengal-sengal. Dia terus meniupkan ceritanya, dan aku tetap mendengarkan dengan setia.
Hingga kini aku tetap tak tau artinya. Tapi aku mengerti….
Hanya sekali itu saja aku mendengarnya. Bertahun selepasnya, tak lagi ada. Aku berusaha mencarinya disela tugasku sebagai penjaga taman. Menggali setiap gundukan tanah, genangan air, bongkahan batu dan tumpukan daun. Berharap menemukan kembali bagian dari genta itu, membunyikannya, dan mendengarkan denting yang pernah kudengar sebelumnya. Walaupun aku yakin, aku tidak akan pernah tau artinya. Tapi, aku mengerti…
Hanya sekali itu saja aku mendengarnya. Bertahun selepasnya, tak jua ada. Akulah sekarang yang membawa genta. Karena aku memiliki sebuah bait yang ingin ku ceritakan padanya. Meniupkan denting itu di setiap gundukan tanah, genangan air, bongkahan batu dan tumpukan daun. Berharap dia mendengarkan selayaknya aku dulu pada denting itu. Walaupun aku tau dia tidak akan pernah tau artinya. Tapi aku yakin dia mengerti…
Senin Pagi, disela pusing ngurusin modul SMS