Blue Ocean Strategy Pt. 1

Udah lama banget gue pengen cerita tentang Blue Ocean Strategy. Blue ocean strategy? Hoooh? Setan apalagi toh? Hue he he he…

Blue ocean strategy itu adalah salah satu strategi bisnis yang lagi ngetrend sekarang.. Bahasa ilmiah-nya itu kayak begini,

The Blue Ocean Strategy is a business strategy about capturing uncontested market space, thereby making competition irrelevant (baca di Wikipedia).

Udah jelas? Nah… kalo yang lagi males banget nerjemahin, secara kasar, pengertian blue ocean strategy itu adalah gimana cara kita nemuin suatu market pasar tersendiri sehingga bisnis yang kita launching ke pasaran itu nggak layak di saingkan sama usaha sejenis. Ato, kalo mau pake kata2 bego, kita bikin market area baru. Sebagian orang bilang Blue Ocean ini dengan istilah anti trend. Aneh juga, strategi yang lagi ngetrend sekarang yang condong untuk menciptakan anti trend. Bwa ha ha ha…

Yup… anti trend. Karena semuanya berawal dari yang namanya trend. Ketika suatu trend muncul (dalam bidang apapun), permintaan pasar atas trend tersebut menjadi sangat besar. Adanya permintaan otomatis melahirkan pebisnis baru. Yaah… prinsip supply and demand. Dimana ada gula, pasti ada semut. Semua pebisnis itu bermuara pada trend yang sama, makan (dan rebutan) dari satu kue yang sama.

Makin banyak pesaing yang ikut, otomatis jatah kue yang bisa diambil jadi makin kecil. Dan perusahaan berusaha untuk merebut pasar yang tinggal dikit itu dengan cara apapun. Perang produk! Perang ini keliatan banget di area marketing, terutama periklanan. Nggak usah jauh-jauh. Perhatiin aja iklan di tipi-tipi. Kacang atom garuda meng”klaim” produknya jauh lebih baik dengan ngejelek-jelekin kacang sukro-nya dua kelinci (keliatan banget bungkus dua kelincinya, walaupun nggak secara eksplisit ditunjukin). Supermi mencoba menjatuhkan mie sedaap dengan juga menambahkan embel-embel sedaaap di bungkusnya, dengan font dan warna yang sama banget. Bedanya Cuma di jumlah huruf “a”-nya doang… gelo kan?
Trend emang menggiurkan banget…. Oasis duit ditengah-tengah padang pasir. Perang produk yang nggak pernah ada abisnya. Red ocean kalo orang bisnis bilang. Dari situ, muncul apa yang namanya anti trend. Area yang diciptakan ketika orang udah muak sama trend dan konservativitas. Area ini lebih dikenal dengan blue ocean. Area tanpa (mungkin lebih tepatnya belum ada) pesaing. Karena satu-satunya cara untuk menang dalam persaingan adalah dengan menghancurkan persaingan itu sendiri.

Cirque du soleil, salah satu perusahaan sirkus asal kanada (dan juga salah satu pengekspor kebudayaan kanada terbesar) menerapkan strategi ini. Perusahaan sirkus ini lahir taun 1984. Dan Cuma dalam waktu 20 tahun, perusahaan ini meraup keuntungan yang buesar banget dimana Ringling Bros. dan Barnum & Bailey (perusahaan yang bergerak di area persirkusan juga) butuh ratusan taun buat mencapai keuntungan yang sebanding dengan apa yang Cirque du soleil dapet.
Ringling Bros. dan Barnum & Bailey memilih anak-anak sebagai audience mereka. Dan makin lama, karena perkembangan teknologi anak-anak lebih memilih untuk tinggal dirumah maen PS ato X-Box. Mereka menerapkan berbagai macam cara biar anak-anak kembali tertarik buat nonton sirkus. Mereka bersusah payah, dan tetep nggak bisa meningkatkan pendapatan mereka secara signifikan.

Cirque du soleil nerapin cara yang beda. Mereka memutuskan untuk tidak bersaing di pasar anak-anak (karena Ringling Bros. dan Barnum & Bailey udah lebih dulu ada di market ini). Mereka lebih memilih menghindari persaingan dengan memilih market pasar orang dewasa dan perusahaan.
Market yang berbeda juga membutuhkan pendekatan yang berbeda. Cirque du soleil merubah semua pendekatan usahanya, hingga bisa diterima oleh market orang dewasa dan perusahaan. “We Reinvent the Circus”, itu adalah slogan mereka, dan mereka berhasil.

Kalo di Indonesia sendiri, persaingan yang gampang banget buat diamati adalah persaingan dalam dunia broadcast, terutama televisi. Ada beberapa stasiun yang udah nerapin strategi ini. Yang jelas banget adalah Trans TV dan Metro TV (Gue yakin temen2 juga setuju sama pendapat gue, salam buat bang koko & Uud yang masih setia di trans… he he he…).
Trans TV udah setia sama strategi ini dari awal. Perhatiin aja acara-acaranya macem ceriwis, jalan-jalannya oom Bondan winarno (damn! Gue suka banget ma acara ini), good news, sampe acara buat anak-anak macem main yuk dan surat untuk sahabat.

Mereka bener-bener mencoba untuk menyuguhkan acara yang baru. Mencari celah market yang masih kosong. Mereka keluar dari kungkungan “sinetron prime time” yang dulu bener-bener ngetrend di semua saluran tipi swasta nasional. Contoh aja extravaganza dan bajaj badjuri yang bener-bener sukses berat. Mereka juga masih nayangin sinetron dengan porsi yang nggak terlalu banyak, sekedar variasi aja.

Blue ocean adalah satu strategi yang serius, dan ini bener-bener dipraktekin sama Trans TV. Dari segi acara, mereka lebih memilih untuk mengerjakan sendiri acara-acara mereka daripada memilih-milih acara yang disuguhkan sama production house. Mengapa…? Karena production house adalah bagian yang bener-bener trend follower. Mereka adalah pemerhati trend dan membuat acara yang sesuai dengan trend. Dan akhirnya… keliatan banget kemiripan dari semua acara yang disuguhkan production house. Ya kan…?

Hal yang sama juga diterapkan pada masalah SDM. SDM yang ada di Trans TV boleh dibilang masih “ijo” dan dengan salary yang tidak sebesar perusahaan broadcast yang lain. Mereka rata-rata adalah fresh graduate yang belum banyak pengalaman. Satu hal yang mungkin dihindari sama stasiun tv yang lain. Karena training fresh graduate butuh biaya yang besar dan salary kecil memungkinkan perusahaan memiliki turn over rate yang cukup tinggi.

Tapi justru itulah kunci kesuksesan Trans TV. Fresh graduate adalah mereka dengan tingkat “excitement” paling tinggi. Karena ini adalah pertama kalinya mereka mendapat pekerjaan, mereka akan berusaha sebaik-baiknya. Lebih dari apa yang perusahaan berikan kepada mereka dalam bentuk salary. 200 bahkan 300% usaha akan mereka keluarkan untuk kemajuan perusahaan. Ide-ide baru dan inovasi mengalir dengan sangat deras. Darah muda, kalo bang haji Rhoma Irama bilang. Turn over rate juga berperan penting. Dengan turn over rate yang tinggi, mereka bisa mengambil lagi fresh graduate yang baru, sehingga tingkat ketersediaan ide-ide baru tetap terjaga dan inovasi akan tetap mengalir.

Hal yang mirip juga terjadi sama Metro TV. Segmen mereka adalah orang-orang yang haus akan informasi. Karena memang bagian dari media group, otomatis dukungan anggota keluarga lain, macem media-indonesia bener-bener berpengaruh banget. Coba aja, stasiun mana di indonesia ini yang bisa diperbandingkan sama metro TV. Jawabannya simple aja. NGGAK ADA!
Mungkin udah saatnya group MNC memikirkan kembali strategi broadcast TV-TV mereka. Karena RCTI sekarang tenggelam dalam kesombongan mereka sebagai TV swasta nasional pertama. Perusahaan broadcast tanpa inovasi dengan menampilkan doraemon selama 14 tahun tanpa henti… dan sinetron yang makin memuakkan. Begitu juga TV-TV segroup dengan RCTI. Sebutin aja deh… pasti mirip-mirip juga. Gue yakin, kalo strategi mereka nggak diubah, nggak usah lama-lama, dalam 2-3 tahun kedepan, mereka pasti udah nggak bisa lagi bersaing.

Jadi ngalor ngidul…. He he he… Dari semua yang gue ceritain, kunci dari Blue Ocean Strategy adalah kreatifitas dan inovasi. Menciptakan segmen baru. Trend baru. Anti trend dari trend yang udah ada sekarang. Dan ketika anti trend yang kita ciptakan menjadi trend, siap-siap meledakkan trend baru lagi. Coz hey… life is a never ending innovation.
Udah dulu akh, ntar obrolan blue ocean diterusin ke area yang laen. Ciao!

Next part, Blue ocean strategy dalam perang teknologi. Distro, sebagai pengejawantahan blue ocean… hua ha ha… (ribet amat!).

Referensi:
1. Blue Ocean Strategy. Wikipedia the online encyclopedia. http://en.wikipedia.org/wiki/blue_ocean_strategy.
2. Blue Ocean Strategy, How to Create Uncontested Market Space and Make the Competition Irrelevant. Kim, W. Chan and Mauborgnee, Renee. Harvard Businees School Press, 2005.

2 Responses to “Blue Ocean Strategy Pt. 1”

  1. Dhia Says:

    bang..ini buah pikiran lu sendiri yaak… weks, panjang dan detail pisan, udah setara sama bab IV tuh, hehe.. Eniwei, gutlak yah sidangnya.

    Gw pernah ikutan training produk bang, dan salah satu metoda pembuatan produk baru adalah dengan “nyontek” produk2 yg udah ada sebelumnya. Tentunya dengan perubahan yg lebih baik dari yg sebelumnya. Untuk bbrp produk ini berhasil loh, misalnya nih buat IT, otomatis kalo jadi “pengikut” kita gak usah mengeducate pelanggan lagi <– ini nih effort yg paling guedeee..

    soal trans tv, bener juga yah bang. Gw baru kepikiran pas baca barusan. Tapi yah itu, pasti ada usaha tambahan buat ngajarin fresh graduate, belom lagi kalo dah ditraining susah2..eehh..malah kabur ke pelukan tv yg laen, hehe. Tapi kalo mau sukses besar juga harus besar perjuangan dan pengorbanannya. Bukan begitu bang didien??

  2. callMeDidien Says:

    Iya ni… doain ya biar kekejar.

    Asik ya tulisan gue… hua ha ha ha… Cuma sekedar pengamat doang.

    Kalo buat IT emang gitu zeus dhia. Istilahnya user centered design. Salah satu software engineering yang nempatin user sebagai objek utama. Kita mencoba memprediksi tingkah laku & kelakuan user. Biar mulai dari newbie sampe professional bisa make tu software.

    Contohnya gini, buat semua software, nggak di windows nggak di linux tombol Ctrl-C itu buat ngopi dan Ctrl-V itu buat paste. Terus, tab menu yang paling atas pasti diawali sama File dan diakhiri sama Help/About. Biar user friendly gitu deh… hi hi hi…

    Zeus dhia… ada gosip apa lagi? kekekek…

Leave a Reply