Archive for August, 2006

Antara Tampang dan Kepintaran .Part 1

Saturday, August 26th, 2006

Berbulan-bulan yang lalu, gue bersama temen seperkodingan pas kerja di Telkom -> sodara Adit tentunya, bikin riset kecil-kecilan yang kalo dipikir-pikir sangatlah kontroversial (begitu bodokh dan sangat gak penting! Kekekekek). Tu riset dikasih judul “Perbandingan Antara Tingkat Kecantikan atau Kegantengan Seseorang Dihubungkan dengan Intelegensi yang Dimilikinya” (gelo! Bisa jadi judul TA nih!. Hua ha ha ha…).

Dan yang paling menarik dari riset ini (menurut kami) adalah bahwa tingkat kegantengan atau kecantikan seseorang berbanding terbalik dengan tingkat intelegensi yang dimilikinya. Artinya, seseorang yang memiliki tingkat kecantikan atau kegantengan berlebih (baca: cuaaantik buaaanget men! So sweeeet!) biasanya diikuti tingkat intelegensi yang agak kurang atau mengecewakan. Dan sebaliknya, seseorang yang tingkat intelegensi-nya tinggi (baca: otak encer) hanya memiliki tingkat kegantengan atau kecantikan yang boleh dibilang “seadanya” (kekekekek… provokatif banget nih!). Kalaupun ada yang memiliki keduanya (apalagi kalo ditambah satu faktor penting lagi! KEKAYAAN!) itu adalah anomali. Sebuah mukjizat dari Tuhan yang sungguh tidak semua orang bisa mendapatkan berkah ini. Kayak Miss Universe dengan slogan 3B-nya (Brain, Beauty, Behavior). Yang menurut gue, ‘ni acara punya agenda terselubung, yaitu untuk menyelamatkan gen-gen mukjizat tadi biar nggak punah dan dapat di turunkan (bagi yang membutuhkan tentunya… he he he…). Walaupun kita memang nggak bisa lepas dari anggapan dasar bahwa tingkat kegantengan atau kecantikan seseorang sangatlah relatif dan tingkat kejelekan sangatlah mutlak (apa seeh!).

Trivia Quiz Time!!!!
Anda mungkin cukup mengenal grup musik Bee Gees. Grup ini sangat kondang di era 70an dan menelurkan hits-hits yang merajai lantai dansa pada jamannya, seperti Stayin’ Alive dan How Deep is Your Love. Tapi anda mungkin belum tau apa alasan mereka memilih nama “Bee Gees”.
Terus baca postingan ini dan Anda akan mengetahui jawabannya!

Ide riset ini muncul dari sebuah pepatah kuno (banget!) yaitu “Nobody’s Perfect”. Yup, nggak ada orang yang sempurna. Pasti ajah ada jeleknya (kayaknya, hal ini juga yang memicu lahirnya infotainment). Everyone has their own darkside… bwa ha ha ha (bener gak bahasa inggris gue?). Karena Tuhan memang maha adil. Memberikan sedikit kelebihan, sehingga manusia dapat (sejenak) melupakan kekurangan yang mereka miliki. Walopun kalo lagi kepepet, pasti diungkit-ungkit. Ya kan?

Stop Press!
Beberapa orang juga memiliki slogan tersendiri, yaitu “The true beauty is under the skin”. Yang artinya adalah kecantikan akan didapatkan setelah operasi face off… ho ho ho…

Tahap pertama dari riset ini adalah mengamati hubungan itu (tingkat kegantengan dan intelegensi) di area kampus. Dalam hal ini, gue ngelakuin pengamatan di kampus gue sendiri (STTTelkom). Gue milih area ini karena mereka pada umumnya menyandang status yang sama, yaitu mahasiswa. Jadi, cukup gampang dan se-level untuk diukur dan diperbandingkan (bahasa kerennya orang IT itu di-benchmark. Kekekekekek..).

Jrengggg… seperti yang gue duga sebelumnya, ternyata hal itu juga berlaku di tempat ini. Berdasarkan pengamatan dan pengalaman gue bertaun-taun-taun disini (saking lamanya), susah banget nemuin seseorang dengan kapasitas kecantikan atau ketampanan yang memadai. Semuanya boleh dibilang STD (Standar). Jarang banget nemuin seseorang yang memiliki kaliber LE (Limited Edition). Paling mentok cuma dapet predikat “manis” atau “menarik”. Kalaupun hoki dapet tipe ini, perbandingannya itu 1:3 ( 1 orang oke dalam 3 angkatan… bwa ha ha ha… kebayang kan?). Wajar banget kalau hanya dalam waktu 2 minggu aja (masa orientasi kampus dan perploncoan. Kalo di tempat gue namanya PDKT -> nama yang aneh!) ni orang udah menyandang ketenaran setingkat selebritis! Hal ini pernah dialamin sama Gita temen gue (yang sekarang sedang mengadu nasib di salah satu vendor perangkat telekomunikasi terkemuka di dunia. You rock girl!). Dalam waktu kurang dari seminggu (bayangin! Seminggu kurang dikit!), dia dah ngedapetin kehormatan untuk berada dalam yel-yel yang dinyanyiin sama anak-anak seangkatan. Gue masih inget banget tuh, “Kalau kau suka hati bilang Gita!” dan kami sekonyong-konyong berteriak, “GITA!” (dasar… jaman jahiliyah).

Supply yang seret dan demand yang berjubel otomatis bikin masalah baru. Banyak dari temen-temen gue yang mencoba untuk lari dari kenyataan dan mulai mengunjungi universitas-universitas yang memang terkenal karena “bibit unggulnya”, macem UNISBA (kalo mau nyari yang berjilbab), UNPAS (yang gaul & bohay2) dan UNPAR (buat mereka yang berselera oriental) sebagai pemuas kebutuhan rohani. Mencoba untuk mencari bentuk-bentuk kehidupan yang layak untuk dikeceng. Dan uniknya lagi, temen-temen persaudaraan the durjanas memiliki sebuah slogan tersendiri (kalo bisa jangan ditiru). Slogannya tuh kayak gini: (biasanya ni slogan keluar kalo ada cewek yang dianggap cakep), “Udah nggak usah ngeliatin, biar kita aja yang diliatin.” Dan hingga detik ini, slogan itu dirasakan sangat kontra produktif. Hu hu hu hu…

Kalo diukur dari intelegensia dan kualiteit, bolehlah kampus gue diperbandingkan sama PTN dan kampus-kampus laen yang bonafide (ce’ ileee…). Dan emang cukup terkenal dengan tingkat kesulitan yang cukup tinggi. Sulit untuk masuk, dan sulit juga untuk lulus… hi hi hi…. Jadi, untuk area riset pertama, logika ini dapat diterima, cukup masuk akal dan dinyatakan lulus uji… wakakakakak…

Untuk area uji yang kedua, kami berdua memilih BEC (Bandung Electronic Center). Nggak tau kenapa, tapi disini aura itu terasa sangat kuat (hi hi hi… mirip pemburu hantu). Kami berdua nggak perlu muter-muter di BEC. Cukup berdiri aja di depan tangga jalan {bahasa kerennya itu eskalator yang berasal dari kata escalate (verb) yang berarti meningkatkan, meninggikan atau mendaki. Sehingga, kalau ditambah akhiran –or berubah menjadi kata benda (noun) yang berarti sesuatu yang membantu seseorang untuk mencapai tempat yang lebih tinggi secara gradual atau bertahap -> Anjrit! Gak penting banget!} di area mezanine yang misahin upper ground sama lantai satu (itu lho… di depan tempat penukaran kupon & informasi. Tempat nongkrong bapak-bapak satpam. Nahhh… di depannya itu ada 2 tangga jalan. Yang satu ke tempat HP, dan yang kedua ke tempat komputer. Udah jelas sodara-sodara?).

Kami berdua nyoba buat ngamatin orang-orang yang pergi ke tempat HP dan orang-orang yang pergi ke tempat komputer. Hasil pengamatan kami adalah, ada kecenderungan bahwa mbak-mbak yang cantik, seksi, bahenol, bohay (you name it!) lebih sering ke area HP daripada ke area komputer. Dan taukah Anda, bahwa orang-orang yang pergi ke area komputer lebih banyak yang bertampang pas-pasan? Ada juga sih, beberapa yang diatas standar, tapi biasanya mereka bersama seseorang yang bertampang “standar”. Sehingga… kami berasumsi bahwa yang bertampang “lebih baik” itu cuma berstatus “sedang menemani” temannya. Dan yang lebih kontras lagi adalah, kami berdua sering nemuin orang-orang yang ke area komputer dengan peralatan tempur seadanya. Macem kaos oblong yang udah agak bolong-bolong, jeans buluk, back pack, sendal jepit, and last but not least… jaket himpunan ato jaket kelas. Kekekekek…. (aksesoris wajib tuh!)

Jawaban Trivia Quiz!!!
Pemberian nama Bee Gees (baca: Bijis) didasarkan pada personil grup musik tersebut yang seluruhnya laki-laki (dan setiap laki-laki memiliki biji… kekekekek…). Dan menurut grammar bahasa inggris, kata benda yang bersifat jamak (banyak) dan dapat dihitung diharuskan menambahkan akhiran –s, sehingga nama grup musik mereka menjadi biji+s=bijis. Karena nama Bijis sangat tidak komersil, maka atas keputusan bersama, mereka memodifikasi nama mereka menjadi Bee Gees. Ho ho ho…(pria bodokh!).

Dari area riset kedua ini, kami berkesimpulan bahwa: (teteup) tingkat kecantikan dan ketampanan seseorang itu berbanding terbalik dengan tingkat intelegensia dia… dan diliat dari berbagai sisi, area kedua ini juga memenuhi syarat dan dinyatakan lulus uji! Cihuy…..!

Dan… bagaimana nasib pejuang kita ini dalam mencari kebenaran? Apakah benar bahwa kecantikan dan kegantengan berbanding terbalik dengan tingkat intelegensia? Apakah kesimpulan yang dapat diambil? Temukan jawabannya di edisi “antara tampang dan kepintaran” selanjutnya!!! Hanya di http://didien.blogs.friendster.com/didien .

Next on “antara tampang dan kepintaran”:
Kami melakukan riset berdasarkan apa yang ditampilkan di televisi….! Dan tebak apa yang kami temukan…! The ultimate conclusion of all!

Tragedi Dangdut!

Wednesday, August 16th, 2006

Disela-sela mengerjakan tugas achir yang keseringan mentok, saya akhirnya memutuskan untuk mengulas salah satu genre musik yang paling spektakuler dalam abad ini. Apalagi kalu bukan musik Dangdut!! Eng ing eeeeng…

Bahkan saat saya menulis blog ini, Rhoma Irama & Elvi Sukaesih menyempatkan diri untuk menyanyikan lagu terharu lewat corong winamp saya… (ouw yeah… tarikkk mangggg…. Rapet belakang!).

He he he… lucu juga sih, sebenernya semuanya gara-gara tetangga sebelah kosan yang selalu memasang radio dangdut sebagai partner mencuci. Dengan volume pol tentunya… (bukan dangdut namanya kalo nyetelnya pelan-pelan). Hampir tiap pagi gue tersihir sama tu’ radio. Terutama sama salah satu lagu dangdut yang sekarang bener-bener fenomenal banget. Siapa lagi kalo bukan Ria Amelia dengan lagu SMS… hua ha ha ha…

Kenapa gue bilang fenomenal? Soalnya gue pernah ngerasain tu lagu 6 kali di setel dalam sehari di 6 media yang berbeda! Gelo gak! Di radio, di tipi, di angkot, di ringtone HP orang (di angkot yang sama pulak!), bis primajasa bandung – lebak bulus (kalo yang ini versi vcd karaoke), sampe-sampe semua blog yang gue baca juga menyisipkan lagu ini dalam tulisannya. Hebatnya lagi, seminggu abis kejadian itu, bung raja (sex)-> temen senasib seperjuangan anggota persaudaraan the durjanas, membawakan flash disk yang isinya lagu itu juga. Jadi deh kamer gue kayak bis malem…. ya salaaam…

Oh iya, tadi siang gue juga sempet berbincang dengan phia (sobat lama yang sekarang lagi S2 di KL. Sial kawww…. Lihat saja… aku akan menyusulmu!). dan dia cerita kalo ada temennya yang jadi DJ dangdut di korea…. Ho ho ho… sungguh pekerjaan yang bergengsi tinggi. TKI kita disana juga butuh hiburan. Home sweet home.

Nah… lirik-nya tuh kayak gini:

* Bang SMS siapa ini bang
Bang pesannya pake sayang sayang
Bang nampaknya dari pacar abang
Bang hati ini mulai tak tenang

Bang tolong jawab tanyaku ke Abang
Bang nanti HP ini ku buang
Bang ayo dong jujur saja abang
Bang, kalau masih sayang

Kalau Bersilat lidah, memang Abang rajanya
Tlah nyata Abang salah tetap abang berkilah

Orang salah kirimlah
Orang iseng-iseng lah
Orang salah kirimlah
Orang iseng-iseng lah

Mulai dari sekarang HP aku yang pegang

Back to*

Bang SMS siapa ini bang
Bang pesannya pake sayang sayang
Bang nampaknya dari pacar abang
Bang hati ini mulai tak tenang

(courtesy of jeng wahyutie. http://yutie.blogspot.com/2006/08/sms-by-ria-amelia.html)

Kalo mau denger, udah gue upload tu lagu di web gue, http://www.didienslifepage.com/sms.mp3 atau di http://www.didienslifepage.com/sms.zip buat temen-temen yang gak bisa download file mp3 dari kantor. Di blok ni ye…. Mang enak…

Googledangdut2

Gara-gara itu, gue iseng-iseng nyari tentang segala sesuatu yang berbau dangdut. Setelah gue cari di mas google, muncul 181,000 halaman yang ada bau-bau dangdutnyah! Mulain dari top ten chart dangdut ampe rumah penyanyi dangdut yang kerampokan! Mak dirabit! Kalo tu list halaman web dibagi jadi 10 judul per halaman, berarti gue musti nge-klik 18100 kali biar sampe ke halaman terakhir (181000/10=18100)! Buh buh buh… mas google memang sudah gila barangkali.

Akhirnya, gue memutuskan untuk memulai pencarian dari wikipedia…. Situs favorit gue!

Wiki bilang kayak gini:

Dangdut is a genre of Indonesian popular music which is partly derived from Arab, Indian, and Malay folk music. It developed beginning in the 1970s among working class Muslim youth, but especially since the late 1990s has reached a broader following in Indonesia.

Artinya, tu musik dapet banyak pengaruh dari musik-musik arab, india dan melayu. Mulai ngetrend taun 70an dan taun 90an ni musik udah melimpah ruah di Indonesia. Contohnya aja di jakarta. Perhatiin gelombang radio di jakarta. Mulai dari delta fm ke sebelah kiri, udah daerah kekuasaannya radio dangdut. Cuma hardrock & indika aja yang rada-rada anomali. Ya kan? Artinya, 1/3 radio di jakarta dan indonesia pada umumnya dimiliki oleh radio yang bergenre dangdut! Believe it or not! Revolusi 36 tahun yang menakjubkan!

Balik lagi ke sejarahnya dangdut. Dangdut tradisional awalnya kental banget sama irama melayu, dengan instrumen pendukung macem gitar akustik, akordeon, rebana, gendang, kecapi, dan suling. Buat referensi, coba dengerin lagu-lagunya M. Mashabi sama A. Rafiq yang lama. Dangdut old school-nya masih terasa. Di era dangdut tradisional, mereka belum menamakan grup mereka sebagai grup musik dangdut, melainkan lebih ke orkes melayu.

Dangdut modern dikenalkan oleh (siapa lagi kalau bukan) Rhoma Irama. Dia mulai ngenalin instrumen modern macem gitar listrik & organ (terutama organ kurzwell yang fenomenal banget dipake sama band rock 70an). Instrumen yang agak ribet macem akordeon, rebana & kecapi nggak dipake lagi. Tapi, gendang, suling, mandolin tetep dipertahanin. Dari situ muncul istilah dangdut, karena suara gendang yang emang dominan banget. Dia juga masukin lengkingan-lengkingan rock model Ian Gillan-nya deep purple. Denger aja di lagu mengapa eh mengapa berjudi itu haram (gue gak tau judulnya, kekekek). Awalnya dia pake lengkingan ha ha haaaaaaaaaaaaaaaaa yeah… (dengerin sendiri aja dah).

Bangoma
Minggir sedikit ke daerah cirebon (daerah gue nih… wak wawwww), sebelum ke dangdut, musik melayu berevolusi ke musik tarling (gitar dan seruling) macem lagu warung podjok-nya H. Abdul Adjib yang melegenda di awal 70an. Dari sini, tarling naik pamor. Termasuk musisi dan sinden-nya.

Tahun 80an dangdut bener-bener naik daun, ngalahin tarling. Karena prospeknya yang lebih menjanjikan, banyak seniman tarling cirebon yang beralih dan memodifikasi tarling ke arah musik dangdut. Macem H. Nano Romanza yang beken sebagai duplikatnya Rhoma Irama (nah… ni Nano Romanza yang berbini empat ini pernah nginep di rumah gue. Karena almarhum Uwak gue dulu pernah jadi supir road tour-nya. Berhubung ongkos nyewa penginepan mahal, jadi pas di jakarta, mereka nginep di rumah gue… hu hu hu hu…).

Do you know…?

Nama panggung Rhoma Irama pada awal karier dangdutnya adalah Oma Irama. Setelah dia menunaikan ibadah haji, ia mengganti namanya menjadi Rhoma Irama yang merupakan kepanjangan dari Raden Haji Oma Irama.
Jadi… kalau infotainment memanggil dia dengan sebutan “bang haji Rhoma Irama”, sebenarnya itu salah besar. Ada redundansi pada panggilan “Bang Haji Raden Haji Oma Irama”….


Sudah tau kan sekarang….

Di pertengahan 80an juga, Rhoma mulai masukin efek-efek gitar ke lagu dangdut. Efek gitar chorus yang alus banget kayak di lagu terpaksa & santai. Sampe sekarang efek gitar yang kayak gitu dibilang efek dangdut. Anak-anak rock paling anti make ni efek. Katanya bisa nurunin pasaran… hua ha ha… tapi setau gue, Plastik pernah masukin efek ini di salah satu lagu di album insting, psiko & harmoni. Tapi gue lupa judul lagunya apaan. Dan asik-asik aja kok. Mantaph…

Tahun 90an, evolusi dangdut makin extreme. Makin banyak modifikasi dangdut yang nggak kepikiran sebelumnya. Pecahan-pecahan ini bikin cabang baru dari musik dangdut, macem cha-cha dut, ska-dut, dangdut core – nya alam (mbah dukun), sampe remix dangdut ala barakatak. Itung-itung ngurangin saingan juga barangkali.

Joni Mitchell’s Both Side

Sunday, August 13th, 2006

Rows and flows of angel hair
And ice cream castles in the air
And feather canyons everywhere
I’ve looked at clouds that way

But now they only block the sun
They rain and THEY snow on everyone
So many things I would have done
But clouds got in my way

I’ve looked at clouds from both sides now
From up and down, and still somehow
It’s cloud illusions I recall
I really don’t know clouds at all

Moons and Junes and Ferris wheels
The dizzy dancing way THAT you feel
As every fairy tale comes real
I’ve looked at love that way

But now it’s just another show
You leave ‘em laughing when you go
And if you care, don’t let them know
Don’t give yourself away

I’ve looked at love from both sides now
From give and take, and still somehow
It’s love’s illusions I recall
I really don’t know love at all

Tears and fears and feeling proud
To say “I love you” right out loud
Dreams and schemes and circus crowds
I’ve looked at life that way

Oh but now old friends are acting strange
They shake their heads, they say I’ve changed
Well something’s lost but something’s gained
In living every day

I’ve looked at life from both sides now
From up and down and still somehow
It’s life’s illusions I recall
I really don’t know life at all

ps: ni lagu keren banget…

Sang Penjaga Taman

Sunday, August 13th, 2006

Sungguh aneh ketika denting-denting itu terdengar olehku. Kala ia meliuk-liuk disela daun, diantara pucuk dahan dan rerumputan. Menari bersama nyanyian angin yang begitu sendu dan muram. Genta-genta kecil yang menyapaku dengan sangat akrab. Selayaknya rangkulan sahabat lama yang telah begitu lama terpisah. Dingin, tapi tetap menakjubkan.

Ya… aku masih ingat denting itu. Dia sempat berkunjung dalam mimpiku tempo hari. Hanya sesaat memang, namun masih segar untuk diingat. Seperti setetes embun yang berkumpul saat malam beranjak subuh.

Sungguh aneh memang. Mendengarkan sesuatu yang entah darimana datangnya. Entah dengan bahasa mana dia menelurkan ceritanya padaku. Dengan bahasa langit barangkali. Karena aku hanyalah penjaga taman. Aku tak mengerti bahasa lain selain yang ada di taman ini. Tapi aku tau apa maksudnya. Isi dari apa yang denting itu ceritakan padaku. Seakan dia meresonansikan nafasnya pada jantungku. Meletakkan ujung telunjuknya pada bibirku dan berbisik,” Ssssshhhh… diamlah. Biarkan aku bercerita untukmu. Sekali ini saja. Hanya malam ini.”

Dan aku hanya terdiam. Memejamkan mataku dan mendengarkan cerita sang denting. Ceritanya mengalir begitu deras seperti angin dingin yang mendera saat kemarau di bulan agustus. Membelaiku tanpa sela, tanpa titik tanpa koma tanpa garis putus-putus tanpa tarikan nafas yang mendesah tersengal-sengal. Dia terus meniupkan ceritanya, dan aku tetap mendengarkan dengan setia.

Hingga kini aku tetap tak tau artinya. Tapi aku mengerti….

Hanya sekali itu saja aku mendengarnya. Bertahun selepasnya, tak lagi ada. Aku berusaha mencarinya disela tugasku sebagai penjaga taman. Menggali setiap gundukan tanah, genangan air, bongkahan batu dan tumpukan daun. Berharap menemukan kembali bagian dari genta itu, membunyikannya, dan mendengarkan denting yang pernah kudengar sebelumnya. Walaupun aku yakin, aku tidak akan pernah tau artinya. Tapi, aku mengerti…

Hanya sekali itu saja aku mendengarnya. Bertahun selepasnya, tak jua ada. Akulah sekarang yang membawa genta. Karena aku memiliki sebuah bait yang ingin ku ceritakan padanya. Meniupkan denting itu di setiap gundukan tanah, genangan air, bongkahan batu dan tumpukan daun. Berharap dia mendengarkan selayaknya aku dulu pada denting itu. Walaupun aku tau dia tidak akan pernah tau artinya. Tapi aku yakin dia mengerti…

Senin Pagi, disela pusing ngurusin modul SMS

Blue Ocean Strategy Pt. 1

Thursday, August 3rd, 2006

Udah lama banget gue pengen cerita tentang Blue Ocean Strategy. Blue ocean strategy? Hoooh? Setan apalagi toh? Hue he he he…

Blue ocean strategy itu adalah salah satu strategi bisnis yang lagi ngetrend sekarang.. Bahasa ilmiah-nya itu kayak begini,

The Blue Ocean Strategy is a business strategy about capturing uncontested market space, thereby making competition irrelevant (baca di Wikipedia).

Udah jelas? Nah… kalo yang lagi males banget nerjemahin, secara kasar, pengertian blue ocean strategy itu adalah gimana cara kita nemuin suatu market pasar tersendiri sehingga bisnis yang kita launching ke pasaran itu nggak layak di saingkan sama usaha sejenis. Ato, kalo mau pake kata2 bego, kita bikin market area baru. Sebagian orang bilang Blue Ocean ini dengan istilah anti trend. Aneh juga, strategi yang lagi ngetrend sekarang yang condong untuk menciptakan anti trend. Bwa ha ha ha…

Yup… anti trend. Karena semuanya berawal dari yang namanya trend. Ketika suatu trend muncul (dalam bidang apapun), permintaan pasar atas trend tersebut menjadi sangat besar. Adanya permintaan otomatis melahirkan pebisnis baru. Yaah… prinsip supply and demand. Dimana ada gula, pasti ada semut. Semua pebisnis itu bermuara pada trend yang sama, makan (dan rebutan) dari satu kue yang sama.

Makin banyak pesaing yang ikut, otomatis jatah kue yang bisa diambil jadi makin kecil. Dan perusahaan berusaha untuk merebut pasar yang tinggal dikit itu dengan cara apapun. Perang produk! Perang ini keliatan banget di area marketing, terutama periklanan. Nggak usah jauh-jauh. Perhatiin aja iklan di tipi-tipi. Kacang atom garuda meng”klaim” produknya jauh lebih baik dengan ngejelek-jelekin kacang sukro-nya dua kelinci (keliatan banget bungkus dua kelincinya, walaupun nggak secara eksplisit ditunjukin). Supermi mencoba menjatuhkan mie sedaap dengan juga menambahkan embel-embel sedaaap di bungkusnya, dengan font dan warna yang sama banget. Bedanya Cuma di jumlah huruf “a”-nya doang… gelo kan?
Trend emang menggiurkan banget…. Oasis duit ditengah-tengah padang pasir. Perang produk yang nggak pernah ada abisnya. Red ocean kalo orang bisnis bilang. Dari situ, muncul apa yang namanya anti trend. Area yang diciptakan ketika orang udah muak sama trend dan konservativitas. Area ini lebih dikenal dengan blue ocean. Area tanpa (mungkin lebih tepatnya belum ada) pesaing. Karena satu-satunya cara untuk menang dalam persaingan adalah dengan menghancurkan persaingan itu sendiri.

Cirque du soleil, salah satu perusahaan sirkus asal kanada (dan juga salah satu pengekspor kebudayaan kanada terbesar) menerapkan strategi ini. Perusahaan sirkus ini lahir taun 1984. Dan Cuma dalam waktu 20 tahun, perusahaan ini meraup keuntungan yang buesar banget dimana Ringling Bros. dan Barnum & Bailey (perusahaan yang bergerak di area persirkusan juga) butuh ratusan taun buat mencapai keuntungan yang sebanding dengan apa yang Cirque du soleil dapet.
Ringling Bros. dan Barnum & Bailey memilih anak-anak sebagai audience mereka. Dan makin lama, karena perkembangan teknologi anak-anak lebih memilih untuk tinggal dirumah maen PS ato X-Box. Mereka menerapkan berbagai macam cara biar anak-anak kembali tertarik buat nonton sirkus. Mereka bersusah payah, dan tetep nggak bisa meningkatkan pendapatan mereka secara signifikan.

Cirque du soleil nerapin cara yang beda. Mereka memutuskan untuk tidak bersaing di pasar anak-anak (karena Ringling Bros. dan Barnum & Bailey udah lebih dulu ada di market ini). Mereka lebih memilih menghindari persaingan dengan memilih market pasar orang dewasa dan perusahaan.
Market yang berbeda juga membutuhkan pendekatan yang berbeda. Cirque du soleil merubah semua pendekatan usahanya, hingga bisa diterima oleh market orang dewasa dan perusahaan. “We Reinvent the Circus”, itu adalah slogan mereka, dan mereka berhasil.

Kalo di Indonesia sendiri, persaingan yang gampang banget buat diamati adalah persaingan dalam dunia broadcast, terutama televisi. Ada beberapa stasiun yang udah nerapin strategi ini. Yang jelas banget adalah Trans TV dan Metro TV (Gue yakin temen2 juga setuju sama pendapat gue, salam buat bang koko & Uud yang masih setia di trans… he he he…).
Trans TV udah setia sama strategi ini dari awal. Perhatiin aja acara-acaranya macem ceriwis, jalan-jalannya oom Bondan winarno (damn! Gue suka banget ma acara ini), good news, sampe acara buat anak-anak macem main yuk dan surat untuk sahabat.

Mereka bener-bener mencoba untuk menyuguhkan acara yang baru. Mencari celah market yang masih kosong. Mereka keluar dari kungkungan “sinetron prime time” yang dulu bener-bener ngetrend di semua saluran tipi swasta nasional. Contoh aja extravaganza dan bajaj badjuri yang bener-bener sukses berat. Mereka juga masih nayangin sinetron dengan porsi yang nggak terlalu banyak, sekedar variasi aja.

Blue ocean adalah satu strategi yang serius, dan ini bener-bener dipraktekin sama Trans TV. Dari segi acara, mereka lebih memilih untuk mengerjakan sendiri acara-acara mereka daripada memilih-milih acara yang disuguhkan sama production house. Mengapa…? Karena production house adalah bagian yang bener-bener trend follower. Mereka adalah pemerhati trend dan membuat acara yang sesuai dengan trend. Dan akhirnya… keliatan banget kemiripan dari semua acara yang disuguhkan production house. Ya kan…?

Hal yang sama juga diterapkan pada masalah SDM. SDM yang ada di Trans TV boleh dibilang masih “ijo” dan dengan salary yang tidak sebesar perusahaan broadcast yang lain. Mereka rata-rata adalah fresh graduate yang belum banyak pengalaman. Satu hal yang mungkin dihindari sama stasiun tv yang lain. Karena training fresh graduate butuh biaya yang besar dan salary kecil memungkinkan perusahaan memiliki turn over rate yang cukup tinggi.

Tapi justru itulah kunci kesuksesan Trans TV. Fresh graduate adalah mereka dengan tingkat “excitement” paling tinggi. Karena ini adalah pertama kalinya mereka mendapat pekerjaan, mereka akan berusaha sebaik-baiknya. Lebih dari apa yang perusahaan berikan kepada mereka dalam bentuk salary. 200 bahkan 300% usaha akan mereka keluarkan untuk kemajuan perusahaan. Ide-ide baru dan inovasi mengalir dengan sangat deras. Darah muda, kalo bang haji Rhoma Irama bilang. Turn over rate juga berperan penting. Dengan turn over rate yang tinggi, mereka bisa mengambil lagi fresh graduate yang baru, sehingga tingkat ketersediaan ide-ide baru tetap terjaga dan inovasi akan tetap mengalir.

Hal yang mirip juga terjadi sama Metro TV. Segmen mereka adalah orang-orang yang haus akan informasi. Karena memang bagian dari media group, otomatis dukungan anggota keluarga lain, macem media-indonesia bener-bener berpengaruh banget. Coba aja, stasiun mana di indonesia ini yang bisa diperbandingkan sama metro TV. Jawabannya simple aja. NGGAK ADA!
Mungkin udah saatnya group MNC memikirkan kembali strategi broadcast TV-TV mereka. Karena RCTI sekarang tenggelam dalam kesombongan mereka sebagai TV swasta nasional pertama. Perusahaan broadcast tanpa inovasi dengan menampilkan doraemon selama 14 tahun tanpa henti… dan sinetron yang makin memuakkan. Begitu juga TV-TV segroup dengan RCTI. Sebutin aja deh… pasti mirip-mirip juga. Gue yakin, kalo strategi mereka nggak diubah, nggak usah lama-lama, dalam 2-3 tahun kedepan, mereka pasti udah nggak bisa lagi bersaing.

Jadi ngalor ngidul…. He he he… Dari semua yang gue ceritain, kunci dari Blue Ocean Strategy adalah kreatifitas dan inovasi. Menciptakan segmen baru. Trend baru. Anti trend dari trend yang udah ada sekarang. Dan ketika anti trend yang kita ciptakan menjadi trend, siap-siap meledakkan trend baru lagi. Coz hey… life is a never ending innovation.
Udah dulu akh, ntar obrolan blue ocean diterusin ke area yang laen. Ciao!

Next part, Blue ocean strategy dalam perang teknologi. Distro, sebagai pengejawantahan blue ocean… hua ha ha… (ribet amat!).

Referensi:
1. Blue Ocean Strategy. Wikipedia the online encyclopedia. http://en.wikipedia.org/wiki/blue_ocean_strategy.
2. Blue Ocean Strategy, How to Create Uncontested Market Space and Make the Competition Irrelevant. Kim, W. Chan and Mauborgnee, Renee. Harvard Businees School Press, 2005.

Nggak ada judul… hue he he

Wednesday, August 2nd, 2006

Enur sms gue kemaren… simple dan bikin gue semangat, “Cepet lulus ya. Semoga prosesnya lancar.” Momo juga nggak bosen2 ngingetin gue…. Bang Jockie juga… (yang katanya makin sterk gito badannya… hue hue hue… ke gym nih bang?) Makasih ya semuanya… doain biar cepet selesai.

Thanks to those filthy zionists (kata-katanya bang dede…).
Semoga semua saudara kita di Libanon sana mendapatkan kekuatan untuk menghadapi itu semua.

Kemaren momo cerita tentang salah satu temen ceweknya yang “ditinggalkan” oleh cowoknya lantaran sang cowok sudah mapan dan mendapatkan wanita yang lebih baik. Poor girl… after all that she has done. Dasar lelaki bangsat! Keparaaaaaat! Kuaing dianjingkeun siah! God Verdomme Zig! Semoga mendapatkan balasan yang setimpal.

But, who am I dare to judge…? Mungkin sang cowok memang udah memikirkan dengan matang chal-echwal perputusan hubungannya. Mungkin itu cuma pucuk gunung es. Nggak serendah kalo kita liat dari luar, who knows…. Dan gue Cuma berharap suatu hari nanti gue nggak jadi cowok brengsek macem ‘tu.

Relationship is about commitment. And keep your commitment in one piece is a big thing to do. Apalagi kalo udah dihadapkan sama alasan klise yang namanya kemapanan. Yang buat gue, itu cuma alasan sampah. Komitmen teteup aja komitmen. Mau elo miskin, mau kaya, mau udah jadi direktur utama Telkom kek (sori oom Rasyid… nggak maksud). Yang namana komitmen mah tetep komitmen. Cuma pengecut yang mengkambinghitamkan kemapanan. WTF…!

Semoga gue nggak jadi orang brengsek macem itu. Damn!