Rindu Sang Daun
Agustus, pertengahan minggu saat purnama sedikit condong ke utara, serta udara kemarau dengan dingin dan daun yang melayang terbuang oleh angin kekanan kekiri namun tetap melaju tidak ada terbersit ragu untuk turun bersandar dengan tanah yang telah menantinya sejak lama. Cukup lama, hingga punggung sang tanah mengelupas perlahan dan terbang menjadi debu-debu diantara daun, semak dan pohon serta kelopak mata.
Randu ingat itu semua, sangat jelas tergurat dalam pikirannya. Termasuk sosok manis putri sulung daulat tuanku raja. Dalam garis tersamar dibalik ribuan dahan mawar. Diseberang danau kecil dengan teratai hijau dan ungu menari diatasnya. Dan sang putri hanya termenung disana. Dalam keteduhan yang tak jua duri mawar yang mampu menolaknya.
November, akhir peralihan dan bulan pun bertambah tua. Sekarang, tanah tak lagi merana, karena tempo hari daun menceritakan kisahnya pada awan dan menyampaikan salam tetesan hujan dalam bulir-bulir lembut yang menyenangkan. Tanah makin menghitam dan penuh kedamaian.
Begitu juga Randu. Dalam pengabdiannya yang tanpa kenal lelah pada taman itu. Pada rumput hijau, pada danau dan teratai serta tuan putri sebagai bidadari yang meniupkan nafas ke setiap dahan bunga mawar. Tuan putri-lah yang memberikan kehidupan pada taman itu, dan juga jiwa Randu.
Terkadang Randu memberikan pertanyaan kecil pada kelopak-kelopak mawar, “Apakah rasanya saat Putri Elora duduk disebelahmu? Apakah keteduhan juga mengalir ke setiap dahanmu? Atau mungkin, kau sangat gugup melihat kecantikannya hingga satu persatu kelopakmu jatuh dan tak satupun tersisa? Sungguh aku ingin sesaat menjadi engaku wahai mawar, dan merasakan hal yang serupa.” Namun mawar tetap diam, menyimpan sebagian rahasia dalam hatinya. Dan Randu hanya tersenyum.
Malam itu Randu terdiam. Menatap langit-langit dalam lilin yang temaram. Ditemani garis-garis kelambu yang menari bersama lilin. Sesaat dia pun menanyakan pertanyaan kecil kepada lilin, “Lilin, pernahkah engkau merindukan seseorang? Sesaat saja dalam hidupmu hingga seakan-akan seluruh bagian jiwamu tertarik kebelakang?” Namun lilin tidak mengindahkan pertanyaan Randu. Dia tetap menari bersama garis-garis kelambu dalam temaram malam itu. Dan Randu masih tersenyum.
Maret, dengan gerimis yang tetap setia mengunjungi. Walaupun tidak seperti kemarin. Rupanya daun sudah tidak terlalu sering menitipkan salam pada awan teruntuk kekasihnya sang tanah. Ataukah awan sudah mulai letih mendengarkan setiap ungkapan rindu sang daun? Atau mungkin kerinduan sang daun tidak sekental dahulu? Entahlah, tanah hanya menunggu sang daun kembali seperti dulu. Tetap setia dalam kesendiriannya.
Begitu juga Randu, yang tetap setia merawat setiap batang dahan mawar yang dulu begitu dekat dengan sang putri. Memungut setiap helai daun yang terjatuh, dan membelai setiap teratai yang mulai kehilangan gairah hidup. Sang Putri sekarang tak lagi mengunjungi taman itu. Dia telah dipersunting pangeran dari pulau seberang. Mungkin, mereka telah berbahagia dengan kehidupan barunya.
Malam itu Randu menatap kembali langit-langit kamarnya yang tersamar kelambu. Dengan lilin yang juga temaram. Menemani hati Randu yang tak jauh berbeda. Dengan mata menerawang, Randu kembali bertanya pada lilin, “Lilin, apakah tuan putri merindukan aku?” Namun lilin tetap saja menari. Menyimpan sebagian rahasia dalam dirinya.
Sabtu, 15 Juli 2006, 00:35. Dalam kamar ditemani plastik dan placebo.