Kyoto Monogatari

Terbuat dari apakah kenangan? Aku tidak pernah bisa mengerti, mengapa pemandangan itu selalu kembali dan kembali lagi: siati pemgandangan yang kudapatkan ketika kereta api shinkansen it tiba-tiba menembus daerah salju dan kulihat seorang perempuan berjalan di luar rumah sendirian dalam badai. Apakah yang dikerjakan seorang perempuan dalam badai yang menggebu seperti itu? tidaj banyak rmah di dataran salju yang kulihat itu, dan hanya perempuan itu yang tampak dalam keluasan serba putih dan memutih sampai di batas cakrawala. Udara penuh dengan salju yang beterbangan katena tiupan badai sehingga perempuan yang berjalan dengan lambat itu tampak menapak dengan begitu berat. Apakah yang dilakukannya dalam badai bersalju seperti itu? Aku tidak bisa memperkirakan apapun dan aku harus menerima kenyataan betapa aku tidak akan pernah tahu.

Pemandangan itu bagiku memilukan, bukan hanya karena merasakan kembali dingin yang merasuk dan membekukan, tapi karena gagasan akan kesendirian dalam keluasan padang memutih itu. Berjalan sendirian di tengah padang salju dalam badai yang dingin dengan suaranya yang menggiriskan di Mongolia, sehingga aku tahu pasti ada sesuatu yang tidak bisa ditunda lagi sampai perempuan itu harus bersusah payah dengan sepatu yang setiap kali harus diangkat tinggi karena melesak dalam tumpukan salju dalam badai yang kencang dan begitu dingin seperti itu.

Semuanya sudah kulupakan, termasuk jurusan kereta api itu: menuju Kyoto dari Tokyo, ataukah menuju Osaka dari Kyoto, aku tidak bisa ingat lagi - tinggal kenangan akan seorang perempuan. Tapi aku tidak bisa menceritakan apapun tentang perempuan itu.

Terbuat dari apakah kenangan? Dari saat kesaat aku masih bertanya-tanya, apakah kiranya yang dilakukan perempuan yang berjalan sendirian di padang salju itu? Waktu kereta api lewat dan aku menengok dari balik jendela, tampak ia baru saja keluar rumah. Jejak-jejaknya terlihat menapak dari sebuah pintu. Masih selalu mengganggu ingatanku dari waktu ke waktu, apakah ada seseorang yang ditinggalkannya di dalam rumah itu, atau memang kosong saja di dalamnya sehingga barangkali ia pergi begitu saja tanpa mengunci pintu? Tentu saja aku tidak meluhat perempuan itu keluar dari rumahnya, sehingga aku tidak tahu apakah ia mengunci atau tidak mengunci pintu itu sama sekali. Kereta api itu lewat begitu cepat, seperti angan-angan melintas, tapi pemandangan yang kulihat kemudian seperti tidak akan pernah pergi lagi untuk selama-lamanya.

Mengherankan bahwa kenangan seringkali terpendam begitu lama dan muncul begitu saja tanpa ada sebab yang harus menghubungkannya. Aku masih selalu penasaran dan bertanya-tanya, mengapa suatu kenangan bisa terpendam begitu lama sampai muncul tiba-tiba pada waktu dan tempat yang tiada pernah datang kembali.. Bagaimanakah caranya suatu peristiwa berubah menjadi sebuah kenangan, tapi yang terpendam befitu lama sampai suatu ketika mengingatkan dirinya pernah terjadi, sekali, lantas tak pernah muncul lagi? Bukankah ajaib untuk membayangkan bagaimana caranya kenangan tersimpan dan muncul kembali atau sama sekali tidak pernah muncul kembali meskipun tetap ada entah diman di sebuah dinia yang tiada akan pernah kita ketahui seperti apa?

Ada kalanya suatu peristiwa juga ingin kita lupakan karena kepahitan yang menyertainya. Selalu ada peristiwa dalam hidup ini yang ingin kita hapus saja dari kenangan, seperti tidak pernah terjadi, meski tetap saja teringat sampai mati - rupanya selalu ada alasan untuk mengenangkan kembali semua peristiwa yang sungguh mati ingin kita lupakan saja sampai habis tanpa sisa.

Hmm.

Tebuat datu apakah kenangan? Bagaimanakah caranya melepaskan diri dari kenangan , dari masa lalu yang tiada pernah sudi melepaskan cengkeraman kepahitannya pada masa kini?

Kenangan barangkali saja tidak selalu utuh: sepotong jalan, daun berguguran, ombak mengempas, senyuman yang manis, langit yang merah dengan mega-mega berarak dalam cahaya keemasan; tapi bisa juga begitu utuh ketika menikam langsung kedalam hati seperti sembilu. Tidak mungkinkah kenangan pahit kembali sebagai sesuatu yang manis? Kenangan seperti diciptakan kembali oleh waktu, membuat masa lalu tak pernah berlalu, bahkan mempunyai masa depan untuk menjadi bermakna baru.

Mungkinkah kenangan itu seperti suatu dunia, tempat kita bisa selalu bisa mengembara di dalamnya?

Aku mempunyai kenangan lain di Kyoto, yang selalu menjadi nyata karena sebuah genta. Kenanganku adalah bunti genta itu, genta kecil yang manis dan selalu berdenting oleh angin yang berhembus perlahan, yang bisa kubawa pulang dan mengingatkan kembali segalanya. Angin itu harus berembus dengan kepelahanan yang sama dengan ketika aku pertama kali mendengarnya, dan dengan demikian bunyi genta itu mengembalikan suatu masa yang telah berlalu. Bagaimanakah suatu masa yang telah berlalu bisa kembali lagi dan mengembalikan perasaan dan suasana yang sama seperti ketika aku mengalaminya, aku sama sekali tidak pernah mengerti.

Kenanganku tentang pemandangan di luar jendela shinkansen itu selalu kembali bukan karena bunyi denting genta kecil itu. Kenangan itu selalu kembali seolah-olah tanpa penyebab apapun, atau setidaknya aku tidak pernah tahu pasti apa yang selalu mengembalikan kenangan itu kepadaku. Apakah karena aku bertanya-tanya apa yang terjadi di dalam rumahnya? Apakah ada seorang anak yang tergeletak dan sakit parah disana, sehingga perempuan itu harus keluar rumah mencari obat dalam badai seperti itu? Perempuan itu menapaki salju dengan langkah yang berat, dan tetap akan berat meski sepanjang gidupnya ia tinggal di sana sehingga tentunya juga terbiasa dengan alam dan iklim seperti itu. Langkahnya berat dan udara begitu dingin, apakah kiranya yang begitu mendesak?

Kereta api itu memasuki daerah salju dengan begitu tiba-tiba seperti pesawat antariksa menembus batas luar angkasa. Dalam kenangan itu aku tidak perbah melihat diriku sendiri sendang memandang dari balik jendela.

Namun di Kyoto aku mengenal seorang perempuan.

Tapi aku tidak bisa menceritakan apapun tentang perempuan itu.

Terbiat dari apakah keangan? Aku tidak ingin mengingat sesuatu, tapi ada suatu kenangan yang selalu kembali. Aku ingin sekali mengingat-ingat sesuatu, tapi barangkali aku akan lupa untuk selama-lamanya. Aku juga selalu teringat sesuatu yang tidak pernah kuceritakan kembali, tidak pernah ukatakan, tidak pernah kuapa-apakan, karena kenangan itu memang hanya bertengger saja dalam kepala.

Tapi mungkin saja peristiwa ini terjadi.

Perempuan itu berjalan di dataran salju menginggalkan jejak yang panjang. Tidak ada seorang pun yang tahu kemana perempuan itu pergi. Di dalam rumah seorang lelaki menunggu perempuan itu kembali. Dunia memutih dan kelabu, lampu-lampu menyala menjelang gelap.
Lelaki di dalam rumah itu menunggu dalam gelap, bertanya-tanya kenapa perempuan itu pergi begitu lama dan tidak juga kembali.

Kemudian ia juga ke luar, mencari ke mana kiranya perempuan itu pergi

Ia mengikuti jejaknya. Ia mengikuti jejaknya sepanjang jalan, sepanjang padang, sepanjang kepahitan yang merunyak di dalam hatinya.

“Kamu mau ke mana?”
“Tidak ke mana-mana.”
“Cuaca seperti ini dan kamu keluar dan kamu bilang tidak ke mana-mana.”
Aku memang tidak ke mana-mana.”

Ia mengikutinya, dan ia tidak tahu perempuan itu pergi ke mana. mungkinkah jejak ini mencapai suatu tempat, mungkinkag jujak ini menvapai suatu tempat yang tidak pernah ingin diketahuinya?

kalu kereta api itu lewat sedetik lebih cepat atau sedetik lebih lambat, tentunya aku akan melihat pemandangan tang berbeda, dan kenanganku akan menjadi lain. Aku akan selalu teringat sesuatu yang lain, tapi yang tidak mungkin kuketahui dengan pasti kiranya seperti apa.

Mungkin sebelumnya ada lelaki lain di luar rumah, dan perempuan itu melihal lewat jendela.

Mungkin itu beberapa menit sebelumnya, bukan hanya sedetik sebelumnya.

Bagaimana kalau kereta api itu lewat beberapa menit lebih lambat?

Barangkali akan kuligat seorang lelaki berjalan di tengah padang salju, megikuti bekas jejaknya kembali, berjalan lambat menuju rumah itu.

Dari kejauhan, dari dalam kereta api yang meluncur begitu cepat, pasti tidak akan kulihat pisau berdarah yang masih digenggamnya.

Masih ada kepahitan di wajah lelaki yang muram itu.

Peristiwa ini tent tidak pernah terjadi. Kereta api melewati tempat itu beberapa menit sebelum atau sesudahnya tidak akan mengubah apa-apa. Tidak ada satu kemungkinan yang memberi peluang kepada pengetauan yang utuh.

Sebetulnya aku selalu membayangkan seandainya kereta api itu lewat ketika perempuan itu sudah menjadi mayat dan terkapar di depan rumahnya. Aku selalu membayangkan ada bekas-bekas darah di atas salju. Barangkali lebih baik mayat itu tidak ada, dan hanya ada bekas darahnya. Ada bekas seretan yang panjang dan berdarah.

Tapi sebetulnya aku hanya melihat seorang perempuan melangkah keluar dari rumahnya dalam hujan dan badai salju - aku bahkan tak tahu itu memang rumahnya atau bukan, dan aku tidak melihatnya membuka pintu, menutupnya kembali, dan melangkah ke padang salju. Aku hanya melihatnya sedang berjalan dengan sudah payah sehingga terbentuk jejak dari sebuah rumah ke tempatnya sedang melangkah.

Tapi mungkinkah bisa dipastikan peeistiwa itu tidak pernah terjadi? Apakah ada sesuatu di dunia ini yang bisa kita ketahui dari segala kemungkinan, serentak dan seutuh-utuhnya?

Di kereta api shinkansen yang meluncur dengan kecepatan peluru, aku hanya tahu perasaanku menjadi rawan. Memasuki daerah itu bola-bola salju berhamburan dan pecah di jendela. Semua itu mestinya tidak mungkin terhadi, tapi aku tidak pernah tahu apa yang telah dan akan terjadi. Betapa sedikit yang bisa kita ketahui dakam hidup yang begitu singkat.

Namun di Kyoto aku mengenal seorang perempuan.

Sayang sekali, aku tidak bisa menceritakan apapun tentang perempuan itu.

-Seno Gumira Ajidarma, Aku Kesepian Sayang, Datanglah Menjelang Kematian, hal 60-68 -

Leave a Reply